Feature news

Showing posts with label Dream. Show all posts

Never Say Goodbye, Dude !!!

kejadian itu cepet banget sih
sama-sama stresss
sama-sama depresi
untungnya masih gak akut
stress masih di batas sewajarnya


temen cowok paling deket dari sejak semester 2 kuliah. up and down kita bareng2. susah sedih seneng2 saling menghibur pun bareng2. 
gatau juga kenapa bisa sama, jarang ketemu juga , kita deket tapi ternyata gak sedekat itu kok. masih banyak yang aku gatau dari dia. bahkan selama ini kita kenal , aku juga gak tau ternyata sama2 suka karaoke juga 
dan cara melepas penatnya juga dengan cara yang sama , itu karaoke.

sampe suatu kejadian setelah lebaran 2019 yang bikin akhirnya dia ngejauh. gatau letak salahnya dimana. 
kalo flashback , yang salah sih jelas dia. cuma aku gak bisa bahas ini , too private for me. 
aku yang harusnya marah
aku yang harusnya ngejauh 
aku yang harusnya murka
aku yang harusnya benci 
aku yang harusnya gak mau ketemu dia
harusnya aku ... 
tapi kenapa jadi dia yang ngejauh yah ? aneh sih. amat sangat ngerasa aneh. 
dan rasanya males jg nyari sapa yang salah sapa yang bener. toh kita berteman , semua masih bisa di omongin baik2.
tapi malam itu juga dia langsung minta maaf. its okay lah. dia temen ku. bakal aku maafin. 
tapi boleh kan minta klarifikasi kenapa sampe ada kejadian itu.

ketika sudah dimaafin dan dianggep gak ada apa2. beberapa hari kemudian, coba menanyakan ke dia, mau tau penjelasan dari dia.
dan saat itu juga dia gak jawab apapun. gak baca chat ku, gak angkat telpon ku. 

am i wrong ? salah ya aku nanyain itu. 

yang awalnya kita chat seru becanda dengan kebodoran kita, tapi pikiran ku gak bisa lepas dari kejadian sebelumnya, tetiba dia gak bales chat padahal online. bahkan baca chat ku, tapi gak bales chat. he pushed me away. 

did i make your heart break with this question ? did i do something wrong to you ? doesn't make sense. 

aku coba memahami keadaan ini, terlebih keadaannya. i gave him a lot of time that he need. tapi gak bisa kayak gini terlalu lama. gak suka keadaan yang kayak gini, gak jelas. aku cuma butuh kejelasan. butuh klarifikasi aja. he could say anything he want, actually.


suatu ketika, aku ketemu sama salah satu temen kelas di kuliahnya. sebut saja Mahmud. aku gatau seberapa dekat mereka yang aku tau cuma mereka berteman. entah apa yang ada dipikiran ku saat itu. tibatiba aku mendadak menanyakan hal yang gak biasa. padahal selama ini Mahmud pun tau aku paling deket sama Rizal. "kamu ketemu sama Rizal gak ? tau kabarnya Rizal gak?", pertanyaan itu yang dinilai aneh.
sekalipun jawab "gpp", tapi dia tau pasti ada apa2 antara aku sama temennya itu. akhirnya Mahmud berusaha bantuin klo ketemu Rizal, dia bakal bilang ke aku.

beberapa hari tanpa kabar, tanpa ngobrol , tanpa becanda , tanpa cerita-cerita random , asli sepi banget. sunyi banget. something had missing. tapi mau gak mau masih tetep harus dijalani, itupun untuk waktu yang tidak dapat diperkirakan.

akhirnya, ketemu lagi sama Mahmud di parkiran motor kampus dan aku samperin dia. jauh di belakang Mahmud, ada sosok cowok yang udah gak asing. Tubuhku di depan Mahmud, tapi mataku tetap mengarah ke Rizal yang berjarak cukup jauh dari posisi aku dan Mahmud berdiri. Rizal dan aku pun sempet kontak mata, tapi Rizal coba menghindari kontak mata itu. Mahmud sadar dengan objek yang telah beberapa menit ku lihat. Rizal terlihat sangat terburu-buru. still wondering.

"dia mau ke bandara makanya cepet2an kayak gitu", Mahmud membuatku terbelalak seolah bertanya, kemana ?

Rizal pun cukup tertutup saat itu, jadi Mahmud gak bisa ngasih info lebih. Rizal dan motornya sudah melaju menuju bandara saat itu juga. Tanpa berpikir panjang, aku minta Mahmud untuk mengikuti Rizal ke bandara.

ngerasa gak percaya dan gak nyangka aja. secepat ini pertemanan kita berlalu. ga bisa kah diperbaiki ? ga bisa kah kita ngomong sebentar ? sepatah dua patah kata ? say goodbye ?

sesampainya di bandara, aku pun berlarian mencari ke segala sudut bandara buat nemuin Rizal. beneran nih perginya kayak gini ? beneran berakhir kayak gini ? aku gamau kehilangan kesempatan untuk memperbaiki sekalipun dengan minta maaf dan sampe berlutut. jika memang itu salahku , salahkan aku , tapi paling tidak ada kata-kata sekali saja yang terucap.

udahlah nyerah, pas akhirnya aku liat sesosok lelaki yang memasuki Gate menuju pesawat melalui garbarata. Kok sakit ya diginiin ? sesak banget berasa ga bisa napas. Sakitnya sampe ke tenggorokan. Tertunduk lemas di bawah tanaman kecil di sudut bandara sambil melihat Rizal melaju menghilang memasuki Gate.

Okay , we're end up like this , aren't we ?

berusaha merelakan sesuatu , tapi tidak semudah itu. masih terus memikirkan yang menjadi ganjalan pikiran. tanpa sadar ternyata rasa sesak itu berubah menjadi air mata yang menetes. Tangis ku tak tertahankan. Tidak adakah sepatah dua patah kata sebelum pergi ? Tidakkah sekali saja melihatku sebelum pergi ?

Tidak !!!

Tersungkur duduk di sudut salah satu bandara dengan hiasan pot tanaman yang cukup besar untuk duduk bersandar. Entah berapa lama menutup wajah dengan mengalirnya air mata dalam telapak tangan. Air mata yang susah dihentikan. Sadar sadarrr, batinku.

“Mbak, kenapa kok nangis disini?”, tiba2 muncul suara lelaki. Gak ada feeling apa2, tiba2 berdiri sambil tertunduk dgn ngehapus air mata biar gak jadi bahan pembicaraan di area sekitar bandara. Takutnya dianggep ada orang gila nangis di bandara. Sembari berdiri sedikit terlihat sepatu ato postur kaki yang cukup faniliar. Kucoba melihat wajah sesosok yang menegur tangisanku. Speechless. Kembali terduduk dan seketika itu memeluk sosok laki2 yang ada di hadapanku itu. Ya dia kembali.

Is it real ?

Masih gak percaya dgn kejadian itu klo dia kembali. Seneng smpe nangis itu ternyata ada. Ini kedua kalinya merasakan rasa senang sampai menangis.

Learn more »

Untitled Tin

Sore kunikmati dengan tenang, di teras ditemani semilir angin. Entahlah, angin semakin kencang dengan membawa awan gelap yang mulai menutupi pandanganku akan senja yang begitu cantik. "yaaa mendung, bentar lagi ujan apa ya" , dalam hati.

Coba kuabaikan mendung itu dan masuk ke dalam rumah. Rumah kecil dengan toko kecil di depannya. Rumah ku tak sebesar rumah-rumah seperti tetanggaku yang lainnya.

Rumah yang berhadapan langsung dengan Lapangan serbaguna milik kampungku, mulai digunakan untuk olahraga Badminton, Futsal, Volley dan bahkan untuk beberapa penyuluhan warga kampung.

Namun ada hal yang patut dibanggakan adalah kampung ku termasuk dalam daftar teratas Kampung Green n Clean yang selalu menjadi kunjungan warga Mancanegara karena kehijauan dan keasriannya.

"dek, mama sama ayah mau ke supermarket yah setelah Maghrib, kamu dirumah, jagain tokonya", ujar mama.

"es krim coklat ya ma", sambil tersenyum manja ke mama.

Adzan Maghrib pun terdengar. Kami bertiga Sholat berjamaah, sebelum akhirnya mama dan ayah belanja. Tinggalah aku dirumah sendirian. Toko ku pun saat itu masih sepi.

Perutku keroncongan. Toko kutinggalkan sejenak. Kurasa aman. Mencari sesuatu di dapur, tapi yang kudapat sisa sup jagung yang dibuat Mama tadi siang. Tak rewel soal makanan, kuambil saja sup jagung itu.

Klonthang

Ada seseorang kah ? Seseorang atau "sesuatu" menjatuhkan sesuatu. Cepat-cepat ku berlari ke depan menuju toko. Agak takut sih, karna aku sendirian ditambah petir yang makin membuatku kaget. Ku siapkan teflon bergagang sebagai senjataku. Mengendap-endap ala Detektif menyergap penjahat. Telat!!!

Lelaki tinggi putih dengan kemeja putih itupun sudah berbalik dan menepis tanganku. "ganteng Eh kok ganteng sih nih cowok ?", tubuhku membeku, pandanganku lurus padanya. Dia hanya memandangku, tanpa tau arti apa yang kuucapkan dan tanpa melakukan apapun. Wajahnya dingin, tampan tapi garis wajah tempramen terlihat. Sekilas sebaya denganku.

"hey kamu siapa ? Cari apa ? Mau beli sesuatu ?," ku interogasi dia. Dia pun masih terdiam, mungkin shock. Hanya bersuara, hhmm hhmm, seakan dia ingin menjawab tapi tak mampu berkata-kata.
"bisa bahasa indonesia?", tanyaku lagi.

Duh bener-bener gak bisa bahasa Indonesia kah nih cowok. Mikir keraslah aku.
"can you speak bahasa or english Sir ?", tanyaku lagi sambil mencari kemungkinan terburuk jika Dia tidak bisa 2 bahasa yang ku tawarkan.
Barulah dia mencoba menjawab dengan terbata-bata, "little bit english and bahasa".

Kutunda makanku, gegara kupikir ada maling, membuatkan tak lapar saking adrenalinku naik. Tugasku sekarang dengannya. Lelaki ini. Siapa dia ? Muncul tiba-tiba. Cowok putih tinggi berparas menawan dengan sedikit cool tanpa senyum sedikitpun ini tiba-tiba muncul di rumahku. Sendirian. Bukan orang Indonesia. Bahasa Inggris dan Indonesia yang minim.



"Anda siapa ?", ku coba Bahasa Indonesia formal.
"Tin", akhirnya dia menjawab. Dia lebih paham menggunakan Bahasa Indonesia Formal. Aku pun makin penasaran.
"Dari mana asal Anda?", lanjutku.
"Thailand", jawabnya.

"hah, Thailand ? Kenapa tiba-tiba kesini ? Kok bisa dateng kerumahku ? Beneran dari Thailand ?", saking shocknya, cercaan pertanyaan bertubi-tubi ku layangkan. Alhasil, terdiamlah dan raut muka yang bertanya-tanya muncul dari wajahnya.

Kenapa ada warga Mancanegara disini yah. Setahuku tidak ada kunjungan dari Mancanegara atau dari manapun ke kampung hari ini. Wajah sebayaku seperti ini harusnya masih Mahasiswa.

"permen ?", tanya yang membuatku tersentak dari lamunanku.
"looking for candy ? Really ? What candy ?," pertanyaan yang bikin shock. Tin cuma mencari permen. Dia pikir toko ku menyediakan Permen yang dia mau. Ini sangat menggelitik. Rasanya mau ketawa, tapi takut dosa aku sih.

Coba kuarahkan menuju toko yang ada di komplek sebrang kampungku. Aku lupa. Tin tidak begitu paham apa yang kukatakan dan dia baru disini. Apalagi sekarang hujan. You're in trouble hun. No, i'm in trouble. Mau gak mau, aku yang harus membelikan permen untuknya.

Eh siapa dia siapa guweh

Tak peduli semenawan apapun dia, disini aku cuma membantu. Jadi ku ambil payung, kuajak Tin ke toko yang ku maksud. "follow me", ucapku pada Tin. Memang agak jauh. Kasian sih, ganteng, harus basah-basahan. Ya, biarin sih, namanya cowok kudu usaha kan yah.

Jalan beriringan dibawah payung, masih gak habis pikir aja cowok secakep Tin ini kebingungan cuma mau nyari permen. Gak begitu jauh dari rumah, Tin merasa kebasahan, iba lah aku.
"stop, you can wait for me, i'll buy you the candy", ucapku pada Tin.

Baliklah aku ke rumah. Ku minta Tin menunggu ku sembari membelikannya permen ke toko sebrang komplek. "dont go anywhere, promise me ?", perintahku padanya. Dia hanya mengangguk tanpa mengucap apapun. Penurut. Ku minta contoh permen yang ia maksud. Tak berapa lama, aku berlari dalam hujan menuju toko tujuanku.

Aku ragu meninggalkannya sendirian di teras. Ya, tak sebodoh itu aku menyuruhnya masuk rumah untuk menunggu. Ku minta Tin duduk menunggu di teras rumah. Keraguan ku makin memuncak ketika ku berdiri di depan gerbang komplek ku yang masih bisa melihatnya dari kejauhan. Berusaha ku tepis keraguanku,"ah gak apa-apa kutinggal bentar, cepet belinya langsung balik rumah. Iya, it's gonna be okay."


Sampai di toko, sialnya antrian panjang harus kulalui demi sebungkus permen. Selama menunggu antrian, masih kupikirkan siapa sih Tin ini. Keperluan apa yang sampai memkasanya harus datang ke kampungku. Tenggelam dengan pikiranku sendiri, tak sadar akhirnya ku bertemu dengan kasir. Kuselesaikan transaksi, bergegas ku berlari kembali ke rumah menemui Tin. Syukurlah, hujan sudah berhenti.

Kembali ke rumah, ternyata Tin sudah tidak ada di teras. Tapi mama dan ayah sudah kembali dari belanja. "ma, yah, cowok di depan tadi kemana ? Ada cowok kan tadi di teras ? Ayah liat ?", coba ku yakinkan bahwa yang kulihat nyata, bukan seseorang yang kasat mata.
"ooh Tin, sudah ketemu yah", jawab ayah dengan santainya.
"ayah kenal ?", makin jadi rasa penasaranku.
"iyah ayah lupa bilang, bakal ada mahasiswa study exchange kampus ayah yang mau ke rumah, ayah pikir gak jadi, yah udah ayah tinggal aja sama mama keluar. Eh tau tau muncul si Tin. Bukan salah ayah donk". Ayahku seorang Dosen jurusan Hubungan Internasional di Universitas yang tidka jauh dari rumah kami.

"lha trus si Tin kemana sekarang? Dia kan gak bisa pake bahasa kita, gatau deh bahasa inggrisnya ngerti apa gak", tanyaku pada Ayah. Tetiba ayah menunduk dengan menahan tawanya. Tin keluar dari dalam kamar mandi kami dengan menggunakan Blangkon di kepalanya. Ini semakin tidak jelas menurutku. Ada apa sih ini.

"Terima kasih pak. Saya akan bawa ini ke kampus besok. Hujan telah reda, waktunya saya kembali ke Dorm."


Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirku. Aku tertegun dengan semua kalimat yang ia lontarkan pada ayah. Bahasa Indonesianya lancar, hanyar sedikit tercampur logat Thailand. Sebelum keluar, ia menghadapku dan mengambil bungkusan permen dari tanganku. Terima kasih, ucapnya sambil tersenyum seolah lega mengerjaiku.

Sambil memberikan salam (Wai : salam asal Thailand), ia mengatupkan telapak tangannya dan sedikit membungkuk, kemudian tersenyum menghadap kami semua. Dan pergi berlalu.

Perasaan yang bercampur aduk. Shock. Marah, tapi karena ketampanannya, rasa marahku berubah menjadi rasa kesal yang, ah kenapa bisa ketipu sama tuh cowok sih. Merasa lucu juga dengan kebodohan yang sudah kulakukan.

Urusanku bersama ayah belum selesai. "ayaaaaaaaaahhhh....", kuluapkan rasa kesalku pada ayah. Kuceritakan semua yang kualami ketika ayah dan mama tidak di rumah saat itu dan akhirnya Tin, si dingin itu datang ke rumah dan sangat membuatku malu. Entahlah apa yang kulalukan jika bertemu dengannya suatu saat nanti. Mungkin ku tak punya muka untuk bertemu dengannya karena rasa malu hari ini.

~~~~~~~~
Learn more »

Happy for You

Undangan terselip di bawah pintu. “apa ini? Dari siapa ya?”, tanya dalam hatinya. Mematung membaca undangan yang ada di tangannya.
Mengikis rasa selama bertahun-tahun, kemudian mendapatkan kabar, Reuni Akbar seragam putih biru akan dihelat di sebuah hotel mewah di Kota Pahlawan.
Apa kabar ?
"Tak seharusnyakah aku menanyakan itu ? Tak bolehkah aku melontarkan pertanyaan ini ?", pertanyaan itu muncul tiba-tiba ketika ia tak sengaja melihat foto laki-laki yang lama akan ia ikhlaskan dengan sosok perempuan lain. Yang Arna pun sudah mengetahui dengan jelas apa jawabannya.

Teringat kembali Maret 2016 lalu, meninggalkan luka dalam untuk Arna. Tak mampu bernapas hanya untuk menahan tangis. Tak mampu berfikir hanya karna tidak ingin teringat masa-masa itu. Dunianya hancur.

Bahkan jauh sebelum Maret 2016, sang istri sudah mau berteman juga dengan Arna. Ya, bukan berteman dalam dunia nyata hanya berteman dalam sosial media. Instragam yang kini hampir dimiliki oleh semua penduduk dunia, menjadi jembatan pertemanan tanpa bersua antara sang Istri dan Arna.

Setahun pernikahan dua sejoli ini berlalu. Komunikasi antara keluarga kecil itu dan Arna hilang begitu saja. Arna pun tak ada keberanian untuk memulai komunikasi. Mereka memang tak saling kenal secara personal. They just knew name each other. Entah apa yang ada dipikiran Arna ketika dia memulai untuk menjadi "stalker" kembali. 

Mungkinkah ?
Mungkinkah ini cara yang tepat ?
Mungkinkan melihat kebahagiaan kalian dari jauh menjadi pilihan terakhir Arna agar hidupnya kembali normal ?

Apakah Arna ingin melatih dirinya sendiri agar semakin kuat? We'll see...
Pertama kali stalking, "ah d*mn!" keluarga itu ku lihat di depan mata. Begitu bahagia. Keceriaan. Kebahagiaan. Suka cita itu terlihat dari sorot mata yang kau miliki. Wanitamu yang sah dan si kecil duplikat mu.

i'm just WOW. I'm happy for you, your mini family.
I’d love to see you, but Something in my lungs. I couldnt breath

Setahun berjalan, usaha Arna mulai membuahkan hasil. Rasa yang tersimpan selama 10 tahun lebih, mungkin hampir belasan tahun, harus diikhlaskan, dihilangkan, bahkan dilenyapkan. Tuhan mungkin memberikan latihan untuk Arna. Latihan dan belajar mengikhlaskan suatu hal di Dunia yang ditakdirkan memang bukan untuknya. Yang dipikirkan Arna sekarang,
apakah bisa aku memulai dari awal ? atau hanya bertemu keluarga kecil kalian ? Can i see them in a real life ? terlalu ekstrimkah aku ingin menggendong duplikat mu ?

I'm sooooo happy to see you happy now, really , i mean it

Perasaan tak mudah berubah begitu saja. Ada niat, ada support, ada faktor lain agar merubah perasaan itu. Yah, tidak cepat, tidak mudah, proses panjang yang harus dilalui. Jika ingin berubah, ya terpaksa harus melewati sakit dulu. Bimsalabim, dan perih itu hilang begitu saja? Dirasa tidak mungkin, semua butuh proses, terlebih proses mengikhlaskan.

Tersadar Arna masih memegang undangan itu. Kembali ia baca undangan itu sampai selesai. Antara hambar dan antusias untuk ikut andil acara itu.
Ah bisa ketemu sama temen-temen lama nih, tapi ....
Masih ada hal lain yang dipikirkannya jika datang ke acara itu. Semua angkatan akan datang dari yang tidak dikenali Arna sampai angkatan di bawah Arna.
Terlebih, datangkah ia ?

Buru-buru Arna hapus pikirannya tentang hal itu. Kesempatan ini membuatnya bertemu banyak orang lagi. Tak terasa hari Reuni tiba. Cemas. Sejauh mata memandang, tak ada yang ia kenal. Semakin kesini, semakin lupa dengan teman-teman masa SMP. Tak terpikir untuk membuat janji dengan teman dekatnya waktu dulu, Kiki. Sampai ada yang menepuk pundaknya dari belakang.

"Hei Arna! Aku kira kamu gak akan datang", Kiki datang langsung mengenali Arna. Kiki yang mengetahui semua kisah Arna dulu, sehingga menyimpulkan kemungkinan Arna tak datang ke acara reuni.

"dateng dong, kan mau reunian sama kamu. Kalo gak gini, gimana bisa kita ketemu lagi. Ya kan ?", jawab Arna sambil tersenyum dan memberi pelukan pada Kiki. Kesibukan Arna membuatnya jarang bertemu kawan lamanya. Terakhir bertemu, Arna menghadiri pernikahan Kiki 2 tahun lalu.

"yaaa jadi harus dipaksa yah. Jangan sibuk-sibuk ah. Kapan ketemu jodohnya kalo gitu ? Eh becanda yaaah Na. hehehe", pembahasan mulai mengarah. "duduk sana yuk ?", ajakan Kiki sambil menggandeng Arna duduk di depan sebuah air mancur yang cukup menenangkan dengan lampu yang tidak terlalu redup. Konsep reuni yang bagus. Indoor dan Outdoor dengan air mancur dengan suara gemericik air yang tak begitu deras. Sangat menenangkan. Akan menjadi spot favorit Arna disana.

Kiki paham betul apa yang disenangi Arna, sampai sekarang pun masih ia lakukan untuk Arna. Tak terganggu dengan lalu lalang tamu lainnya, Arna dan Kiki asik berbincang. Berbincang semua yang belum sempat ia ceritakan pada Kiki. Cukup lama berbincang hingga senja menyapa kala itu.

"Na, aku ambil minum dulu yah ke dalem. Kamu mau minum apa ? Aku ambilin.", tawaran Kiki pada Arna.

"Samain aja deh Kik, hehehe makasih yah.", jawab Arna.

Kiki berlalu meninggalkan Arna ditemani senja dan gemericik air yang menenangkan pikirannya. Namun, Arna tak duduk sendirian. Tersadar sebelah kanan kirinya mulai banyak reunians datang. Arna yang duduk serong ke kanan, sehingga membelakangi seseorang yang duduk di sebelah kirinya. Baby stroller terhenti di sisi kiri Arna dengan tudung yang masih tertutup. Arna hanya melirik. Tak terlihat di dalam baby stroller itu ada bayi atau tidak.

Arna tak begitu memperdulikan hal itu, dan tidak menoleh terlalu jauh ke sebelah kirinya. Masih saja Arna menikmati senja dan gemericik air. Tangisan bayi dari baby stroller membuyarkan lamunan Arna. Dibukalah tudung baby stroller itu. Arna pun memutar badan 90 derajat.

"Bayi itu ? Kenapa mirip sekali ?", batinnya berkata.


Sang ibu tepat di sebelah kiri Arna mencoba mengeluarkan si Bayi dari baby stroller. Entah perasaan apa yang muncul di hati Arna. Tak bisa dideskripsikan. 

That's his duplicate and his wife 

Berusaha menyembunyikan perasaannya, Arna tersenyum.

I meet them. I meet your duplicate. Your beautiful duplicate.

"aku udah ketemu dia, gak ada satu meter, tepat di sebelahku. Aku mau menyentuh anakmu. Hanya menyentuhnya. Can I ?", kalimat-kalimat itu selalu muncul dipikirannya.

"kenapa adek cantik ? kenapa nangis ? anak cantik jangan nangis yah ?", mencoba berbicara dengan si Baby sambil menyentuh tangannya.

Ah i can't handle this. I just want more, not only this touch.

Arna menyodorkan tangannya pada si Baby dengan tersenyum agar mau digendong olehnya. Tak disangka, si Baby menyambut tangan Arna. Digendong dan dipangku oleh Arna membuat si Baby terdiam. Feels like, i can communicate with this baby girl. Moment itu membuat Arna tak sadar bahwa ada sang Ibu baby girls disisinya. Seketika, dunianya hanya Arna dan si Baby girl. How lucky me.

Sudah tak ada perasaan takut
Perasaan sakit kehilangan
Perasaan perih melihat mereka secara langsung

Menyentuh bayimu, membuatku merelakan mu dengan kebahagiaan yang kau miliki kini.

Tak kusangka, keputusanku untuk datang, akan memberikan ku moment indah ini.

Kuharap ada moment lain seperti ini yang semakin mendukungku untuk hidup kembali normal


I just can say one more time, or in million times,

I'm really happy for you and your life.
to see you happy , it can make me happier



See you in another life
Learn more »

Do What You Loved, and Love What You Do!

Tidak seperti biasanya, hari sabtu ini rasanya berat buat membuka mata, rasanya masih pengen tidur istirahat. Gak sadar, alarm sudah snooze sampe ke lima kalinya. Derita kerja sambil kuliah, capek ? Iya . Jenuh ? Pasti ! Stress ? Hhmm jangan ditanya. Membagi waktu antara kerja, kuliah dan istirahat itu gak gampang. Tapi yah itu konsekuensinya. 
Shift kerja pertama, otomatis pulangnya siang. Capek. Setting alarm jam 4 sore. Tidur. Sebelumnya sih lancar-lancar aja kalo ada jadwal kayak gini. Tapi hari ini gak tau ada setan apa, males banget bangunnya. Bangun-bangun sudah jam 5 sore. 


"aaarrrgghhhh telaaaaaaaaaaaatttt!!! Padahal ada kuliah jam 6.", bangun dari kasur masih pakai seragam kerja lengkap sambil lari ke kamar mandi.
Kaget ? Jelaslah. Mau nangis rasanya. Secara si Arna tipe Intime Girl. Masih kaget sampe keringetan, nyawanya belum full pula. Lari sana sini buat nyiapin kuliah. 
"ma .... mama ..., berangkat kuliah dulu yah!", teriak nyariin mama buat pamit kuliah.
"tumben mepet berangkatnya ?", senyum-senyum ngeledekin. Si Arna manyun aja tuh
"itu alarm hape udah gak mempan nak buat kamu. Bisa-bisanya setting alarm tapi disnooze sampe 5 kali.", sambil nyiapin makan malam di dapur.
"udah ah ma, Arna berangkat dulu. Assalamualaikum.", sambil lari ke depan gang buat nungguin angkot.
Polemik dalam menunggu angkutan kota ato sebut aja angkot adalah penumpangnya harus penuh baru deh berangkat. "Gak kumpul, gak budal". Kurang lebih gitu slogan para supir angkot.
Cemas, ngeliatin jam tangan mulu. Rasanya gak ada kesempatan ngecek hape. Tujuan sore itu cuma sampai ke kampus tepat waktu.
Jam 18.15 baru sampai kampus. Fix telat. Ini telat. Rasanya gak mau masuk ruang kelas. Tapi gak mau bolos kuliah. Lari deh ke lorong kampus. Nyari kelas yang biasanya ditempel di papan pengumuman. Ya masih konvensional sih caranya.
"mana ruang kelasnya yah, kok gak ada sih. Duh makin telat deh nih", sambil bacain satu per satu tulisan yang ditempel di papan pengumuman. Baca lagi ke tiga kalinya masih juga gak ketemu tuh ruang kuliahnya.
Masuk lah ke ruang akademik, "Permisi, Pak Don, mau tanya kelas MS28 ruang kuliahnya dimana yah, aku baca di papan kok gak ada.".
"hahahaha Kamu mimpi ? Kan memang sudah gak ada jadwal kuliah Arnaaa. Jum'at minggu depan serentak ujian semua kelas.", penjelasan Pak Doni sambil ngeledekin Arna dan tertawa.
MALU berasa dapet ZOONK
"makasih Pak Don", sambil melipir keluar ruangan saking malunya.
Alhamdulillah, iya. Sebel, iya banget. Ngerti kan ya rasanya kalo dikerjain. Prank. Yah gitu deh rasanya.
Berhubung sudah waktunya sholat Maghrib, Arna menyempatkan diri ke Musholah kampus. 
Sesudahnya sholat, Arna duduk di tangga depan kampus. 
"ini kenapa gak ada info sih temen-temen.", sambil scrolling chat grup kampus di Whats App.
Kaget dan malunya bukan kepalang, ternyata di grup sudah rame bahas jadwal ujian dan libur kuliah.
Mau balik rumah, ah Arna malu abis sama mamanya. Masih mikir mau kemana, iseng-iseng aja. Anak jaman sekarang, kalo lagi nganggur aplikasi yang dibuka ya Instagram. Scroll scroll scroll instagram.
"Singto ? Krist ? Ini beneran ?", saking kagetnya. Postingan terakhir mereka di instagram Singto berlatarbelakang di Pasar Baru ala ala menyebrang jalan. Tapi tetep yah, cakepnya gak berubah.
Kok aneh yah mereka di Indonesia, tapi gak adakah yang sadar mereka disini.
"heh Epi, tau gak sih si Singto sama Krist lagi di Indonesia ?", Arna pun langsung dm Epi via Instagram.
"eh masa' iya, belum cek ig lagi sih", Epi pun juga scrolling ig nya. Tak berapa lama, Epi pun membalas,"omaiiigottt, iya beneran. kok bisa ? gak ada kabar. Diem-diem apa gimana sih mereka tuh". Saling menimbulkan tanda tanya besar.


Singto dan Krist adalah artis muda Thailand.
Tapi anehnya, mereka ke Indonesia tanpa ada promo, tanpa ada gembar-gembor, tanpa ada yang tahu. Is this real ? Masa iya mereka beneran di Indonesia. Masih gak nyangka sih.
"Pi, aku gak bisa tinggal diem. Besok kan libur. Aku mesti cari mereka. Itu lokasi deket sama rumahku. Kemungkinan kalo mereka jalan, harusnya homestay mereka gak jauh-jauh dari dimana mereka jalan-jalan. ya kan ?", Arna coba meyakinkan Pi.
"ya juga sih, aduh aku jadi kepo.", kekepoan mereka semakin menjadi.


**********


Minggu pagi jadwal Arna olahraga pagi. Rute yang dilalui tidak jauh dari pasar baru dekat rumah Arna dan kampus. Ya, area rumah Arna memang dekat dengan banyak kampus dan sekolah. Pasang headset dan mulailah Arna berlari.
Tak terasa sudah mencapai 5 km kaki Arna berlari. Arna cukup kelelahan dan membuatnya memotong jalan yang awalnya rute jalan besar, ia memilih jalan pintas dengan masuk ke perumahan tepat di depan Kampus. Arna hapal betul jalan tikus daerah sekitar rumahnya, meskipun ia gak bisa naik motor sendiri *oopss.


Anehnya. Arna memilih jalan yang jarang ia lewati dari Perumahan itu. Didepannya terlihat, entah homestay atau asrama mahasiswa Luar Negeri yang mana di depan halaman tersebut sudah banyak terlihat seperti mahasiswa dan mahasiswi Luar Negeri. Tanpa ragu, Arna pun menghampiri salah satu mahasiswi dengan potongan rambut lurus sebahu, dengan kulit kuning langsat dan rupa yang cantik.
"Permisi...", Arna menyapa mahasiswi itu dengan Bahasa Indonesia. Kemudian hening. Mahasiswi tersebut diam tanpa kata. Seolah tak mengerti apa yang dikatakan oleh Arna.
"hhhmmm ... ", celinguk Arna di belakang mahasiswi itu.
*ini anak diam aja, gak bisa Bahasa Indonesia apa gimana sih* dalam hati Arna.
Tak lama, seseorang laki-laki berwajah tirus, berkulit putih mengenakan kacamata yang tingginya sekitar 170 cm pun menghampiri Arna perlahan. Seakan ingin menawarkan bantuanya. Semakin dekat, semakin jelas wajah laki-laki itu.
Singto ? tuh anak Singto bukan sih ? Apa iya ? Masa' iya itu Singto ? Beneran itu Singto disini?
"Excuse me, boleh saya bantu?", kalimat pertanyaan dengan logat yang cukup aneh didengar membuyarkan lamunan Arna.
Betapa tidak, tak lama setelah Arna tersadar dari pertanyaan-pertanyaan di pikirannya. Dan benar, itu adalah Singto. Singto yang harusnya Arna cari dimana keberadaannya di Indonesia. Tanpa bersusah payah, Arna sudah menemukan dimana Singto tinggal di Surabaya.
Eh tunggu, ini mimpi ?
"perkenalkan, saya Singto.", semakin diyakinkan oleh Singto bahwa dia benar-benar Singto yang memperkenalkan diri pada Arna dengan salam khas Thailand, yaitu Wai.
"dan Ini, May", memperkenalkan mahasiswi cantik sebelah Singto. Dan benar, May tidak bisa berbahasa Indonesia sekalipun bahasa Inggris.
Waktu serasa terhenti. Arna terbelalak dengan kalimat itu. Secara perlahan kebodohan Arna keluar, dengan menjulurkan tangannya kepada Singto untuk berjabat tangan. Ya, berbeda adat dan budaya. Tak ada salahnya saling memperkenalkan budaya Negara masing-masing. Tapi Arna tanpa sadar menyodorkan tangannya pada Singto dan tanpa berkedip sekalipun.
"Arna.", Singto yang sedikit bingung menyambut jabatan tangan Arna saat itu.
Singto bisa bahasa Indonesia ? hahaha cukup menggelikan. Ya meskipun tidak sepenuhnya dia berbahasa Indonesia, tapi dia bisa berbahasa Indonesia. Thanks God. Jadi gak susah-susah ya kalo mau tanya-tanya.
"Please, have a seat Arna.", mempersilahkan Arna duduk di kursi dan meja portable yang berada tepat di belakang mereka.
Arna dan Singto berbincang banyak mengenai pendidikan dan negara mereka sampai tak terasa waktu pun berlalu begitu cepat. Arna pun baru sadar bahwa dia berkeringat setelah berolahraga tadi. Niat Arna untuk pulang saat itu, memunculkan ide bagus.
"Would you mind to come to my house, Singto ?", ide ini diterima baik oleh Singto dan kawan-kawannya saat itu.


**********

Waktu menunjukkan pukul 15.00. Arna menjemput Singto dan kawan-kawan barunya itu untuk datang ke rumahnya. Hanya beberapa yang ikut. Arna tak mempermasalahkan hal itu, hal terpenting adalah Singto datang ke rumahnya. LOL
"Hi!", lambaian tangan Arna pada Singto yang masih berada di depan kamarnya di lantai 3.
"ready ?", tanya Arna pada Singto yang begitu antusias.
"ya, saya bersama 2 teman. Is it okay ?", Singto bertanya pada Arna. Arna hanya tersenyum dan menganggukkan kepala atas pertanyaan Singto itu.
itu May, tapi sebelahnya siapa yah ? laki-laki berkulit putih itu cukup familiar di mata Arna.
"May dan Krist boleh ke rumah kamu ?", Singto menyebutkan nama itu sambil tersenyum.
"ini Krist ? Krist yang itu ?", pertegas Arna kepada Singto.
Krist juga memberikan Wai-nya pada Arna. Arna membalas Wai Krist meskipun sedikit kaget dengan kehadiran Krist. Krist yang awalnya tidak terlihat ketika Arna main ke homestay mereka.
Singto, May dan ternyata Krist pun mau bergabung untuk datang ke rumah Arna. Ternyata Krist juga tak keberatan untuk diajak ke rumah Arna.
Mereka berempat berjalan bersama ke rumah Arna. Selama perjalanan, mereka berempat mengobrol. Singto pintar. Bahasa Inggris yang mumpuni. Bisa sedikit bahasa Indonesia pula. Setiap Arna mengajukan pertanyaan pada May dan Krist, Singto menjadi translator. Mereka bercerita begitu senangnya menjalani kegiatan yang mereka senangi.


Awalnya memang berat bagi mereka. Terlebih lagi harus menempuh pendidikan mereka di beda negara. Bertemu dengan orang-orang baru, dengan budaya baru, termasuk cara berpikir yang baru. Lingkungan yang berbeda dan tempat tinggal yang mereka tinggali juga berbeda dengan negara mereka. Memang Indonesia dan Thailand memiliki kemiripan, namun untuk beradaptasi dengan hal yang baru, tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Ternyata artis-artis Thailand ini, bukan hanya pandai berakting, tapi mereka juga memikirkan pendidikan mereka. Mereka merupakan mahasiswa dan mahasiswi untuk Study Exchange di Indonesia yang mana kampus mereka sering dilalui Arna setiap berolahraga. Dan Singto lah yang ditunjuk menjadi Student Leader dari kampusnya dikarenakan ia sedikit banyak mengerti mengenai Indonesia dan budaya di Indonesia. Tak dipungkiri, Singto yang bahasa Inggrisnya mumpuni, ia juga dapat berbahasa Indonesia meskipun sedikit.

Dari sinilah, Arna tersadar. Kuliah dan bekerja apabila dilakukan dengan keikhlasan akan mendapatkan hal baik pada dirinya sendiri. Sama halnya seperti artis-artis ini yang menempuh pendidikan mereka dan masih harus bekerja ketika sudah kembali ke Negaranya. Arna yang masih kuliah dan bekerja di Negara yang sama, terkadang masih merasakan kelelahan, kejenuhan. Dan dari situlah Arna harus mampu mencari jalan keluar agar yang ia lakukan tidak menjemukan dan ia mendapat perlajaran berharga dari apa yang ia lakukan.

Learn more »

The Memory came back

Tak dapat dipungkiri. Masa lalu itu masih terbayang. Takkan pernah hilang. Mungkin sempat hilang, hanya sejenak. Namun pasti kembali. Meskipun hal itu tidak diinginkan. Memories came back. Reuni yang berujung memuntahkan kembali "kenangan" Arna di masa lalu. Apakah ini keinginannya? Hhmm tentu tidak. Hal itu justru ingin dilupakan olehnya, meskipun sulit dan butuh bertahun-tahun. Hal ini yang menjadikannya orang yang dingin. No feeling, just flat.



Tak disangka. Hanya dengan semalam, usaha yang dilakukan selama bertahun-tahun itu sia-sia. Reuni semasa Sekolah Dasar yang sudah direncakan selama beberapa bulan, akhirnya terwujud. Awalnya rencana itu tak dipedulikan oleh Arna, aah dimulut saja, hanya rencana, tak akan terwujud. Remehnya. Beberapa hari setelahnya, tanggal, waktu dan tempat sudah rilis di forum reuni. Benarkah ? Adakah yang datang ke acara itu ? Siapa saja yang datang ?

Reuni diadakan selama 2 hari 1 malam di luar kota. Bagi yang sudah berkeluarga diperkenankan untuk mengikutsertakan keluarga mereka. Bagi yang single, yaaaaah sudah terlihatlah ya. Arna mencoba untuk ikutserta dalam acara itu. Tempat yang ditentukan sudah menjadi titik kumpul. Jadi untuk partisipan, berangkat menggunakan kendaraan mereka masing-masing. Begitu juga dengan Arna. Ia mengendarai mobilnya sendiri. 
Perjalanan yang begitu panjang, ditempuh sendirian oleh Arna tak membuatnya bosan. Ia terlalu sering menikmati kesendiriannya. 

Tak terasa, sudah terlihat di depan mata, rumah panggung dengan tangga di sisi kanan dan kirinya ditambah dengan ruangan besar di bawahnya seperti small hall. Teduh dan asri. Bisa disebut, Private Villa. Ya, itu Villanya. Selayaknya acara reuni, temu kangen, saling cerita masa lalu, cerita hal-hal yang sudah dilalui bahkan hal-hal memalukan semasa sekolah dulu juga menjadi topik yang sangat menarik. Tak terlepas juga masa-masa Cinta Monyet. Ah, ini yang harus dihindari Arna. Apa iya Arna bisa menghindar ? Semua teman kelasnya pasti menjadikannya bahan, itu pasti. Tapi hal itu sudah Arna sadari sejak awal mengikuti reuni ini. Baginya, yang sudah berlalu, biarlah berlalu dan menjadi pelajaran untuknya sendiri.

Tak lama dari perbincangan mereka di Hall, mereka memasuki kamar Villa yang sudah disewa untuk menginap semalam itu. Masing-masing sudah meletakkan barang bawaan mereka di kamar masing-masing. Kemudian berkumpul kembali di lorong depan kamar mereka masing-masing. Arna pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan teman-temannya, dan kebetulan dia tidak punya teman sekamar alias roommate.

Arna keluar dari kamarnya sembari meletakkan barang yang ia bawa dan berdiri tepat di depan pintu kamar Villanya. Awalnya tidak ada yang aneh, karena semua temannya sudah berdiri di depan pintu kamar mereka masing-masing.

Sampai terdengar suara, "ciyeee ciyeee sebelahan, CLBK nih yeeee". Julian, ia yang mengatakan itu. Arna tak menghiraukan kalimat itu awalnya, sampai dia melihat Julian menatapnya dan sebelah kiri Arna. Siapa ? Arna terbelalak. Kaget, jika kalimat itu ditujukan padanya. Raut wajah dan matanya tidak dapat menyembunyikan ekspresi tanda tanya. Semakin riyuh dengan bantuan suara teman-teman lain untuk menggoda Arna.

"Siapa ? Aku ? Aku CL...", belum menyelesaikan kalimatnya pada Julian, sambil Arna menoleh ke sisi kirinya.

Kaget. Deg-degan. Kecewa. Marah. Senang ? yah sedikit. 
It's been long time, dude
Terdiam. Dan hanya itu yang dapat ia katakan dalam hati. Yah, yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Tak perlu diungkit kembali. Namun, harapan itu tidak terwujud. Berkumpul dengan banyak orang, banyak orang dan banyak kepala dan isi otak pun berbeda. Arna tidak bisa memaksakan teman-temannya untuk tidak mengungkit cerita lamanya yang sudah lalu.

"udah CLBK deh sana. hahaha", ujar Julian sambil tertawa.

"ya ampun yah udahlah yah, udah lewat juga. udah lalu kok.", balas Arna pada Julian sambil berlalu meninggalkan teman-temannya dan menuju anak tangga.

Rido. Ya, laki-laki itu yang membuatnya menjadi wanita dingin.

"tunggu!", Rido mengejar Arna sembari menarik tangan Arna. Terdiam lagi.

Julian yang paham akan situasi itu, mengajak semuanya turun melalui tangga sisi kiri Villa untuk berkumpul kembali di Small hall dan meninggalkan Rido dan Arna.

***********

Rido dan Arna mempunyai cerita lama. Mungkin hanya Arna yang merasakan itu. Sampai pada akhirnya dia mulai sadar bahwa dia memang bukan ditakdirkan untuknya. Cukup lama Arna berjuang sendiri untuk mengobati lukanya. Arna paham, Rido tidak akan merasakan hal yang sama. Daripada Arna menyakiti dirinya dan Rido, Arna lebih baik mundur perlahan. Sakit. Sudah jelas. But, you have to.

Merasa lucu. Pengalaman ini banyak orang menyebutnya cinta monyet. hahahaha. Namanya juga masih kecil. Belum cukup umur. Tapi entahlah, ini melekat di benak Arna. Tak semudah itu melupakan seseorang. Tak semudah itu meninggalkan memori yang sudah mereka jalani.

************

Arna mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Rido.

"kamu denger kata mereka ?", pertanyaan itu terujar dari Rido untuk Arna.

"iya denger, terus ? memangnya kenapa ? sudah aku jawab juga kan tadi", balas Arna sambil berbalik ke arah Rido.

"ya udah kita lakuin", Rido menarik tangan kanan Arna kembali.

Mendengar kalimat Rido membuat Arna marah. "Maksudmu ?" tanya Arna kembali.

"ya udah, ayo kita jalanin apa yang mereka bilang", ucapan Rido semakin membuat Arna mendidih. Mata Arna berkaca-kaca.
How can you say that ? How dare you say that to me ?
Andai saja kalimat itu dikatakan Rido 10 tahun yang lalu, akan mengubah segalanya. Dan bahkan kalimat itu dikatakan Rido ketika Rido juga sudah memiliki seseorang yang sudah lama di hidupnya. It's heartless. Rido dan wanita itu memang belum menikah, but, it's still heartless. It's so heartless for her

"hei, kamu anggap aku apa? cadanganmu ? are you losing your mind ?", tak tahan Arna dengan Rido.

"maaf yah, yah aku memang cinta sama kamu dulu sampai sekarangpun masih ada sedikit rasa itu, tapi jangan kamu berani ngomong gitu ketika kamu masih punya dia, wanita yang bener-bener kamu cintai, bukan aku. Aku lebih baik, aku yang mundur. Kamu punya hidupmu sendiri, aku pun punya hidupku sendiri yang berhak untuk bahagia." Arna kembali ke kamar untuk mengambil semua barangnya dan kembali pulang.

Arna tak tahan dan akhirnya memilih untuk berlalu pergi meninggalkan acara reuni tersebut.

Wow. Hanya semalam. Kenangan itu muncul lalu dihancurkan lagi oleh orang yang sama.

Jangan mencoba menghibur wanita yang mencintaimu dengan cara berpura-pura mencintai dan bahkan menjalin hubungan agar wanita itu senang. 
It's so cruel

Learn more »

(Maybe) Its good for you

Weird feeling ! I've got this feeling last night ... Entah harus mulai dari mana. Wanita ini mencintai lelaki itu. Sangat mencintainya. Menunggu dan berdoa adalah usaha yang dapat wanita itu lakukan.

Sebelas tahun yang lalu, wanita ini menemukan lelaki yang merubah pandangannya. Some people said Love at first sight. Tapi apakah benar ? Wanita ini masih bertanya-tanya tentang perasaannya itu. Sebelas tahun berlalu sampai pada saat ia menemukan lelaki itu bersama wanita lain.

Arna mungkin sudah mempersiapkan apa yang akan terjadi. Kemungkinan terburuk yang mungkin harus ia hadapi. Terakhir komunikasinya dengan Sang lelaki yang dapat menguras perasaannya, ketika Sang lelaki masih mengingat namanya dan menyebutnya. Air mata Arna tak terbendung. Air mata kebahagiaan yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Ia pun tak tahu apa yang terjadi padanya. Namun, mungkin inilah kata-kata terakhir Arna pada lelaki itu. Tanggal 12 November lalu , ucapan selamat ulang tahun ia kirimkan kepada Sang lelaki. Ia merespon. Arna begitu bahagia.

Arna tak mau melangkah lebih jauh. Ia takut jika langkahnya itu akan merusak segalanya. Komunikasi yang berjalan stabil, itu sudah cukup baginya. Hal terpenting, kebahagiaan sang lelaki dan mungkin wanita yang ada di sampingnya saat ini.

Dan Arna sepertinya harus benar-benar menerima kenyataan. Sang lelaki bukanlah miliknya. Arna menemukan suatu acara televisi dimana wanita itu menjadi Guest Star. Arna mengenali wajah wanita itu. Perasaannya bercampur, antara kaget, penasaran apa yang terjadi selanjutnya dan dorongan untuk segera mematikan televisinya. Keputusan Arna tetap menyaksikan acara tersebut sampai akhir acara.

Apa yang terjadi ?
Wanita itu berkata, "ini tidak akan berhasil jika tanpa sosok lelaki special di samping saya. Dia kekasih saya." Presenter acara tersebut menginginkan kekasih wanita itu berdiri. Arna berharap bahwa lelaki itu bukanlah Sang Lelakinya. Namun , kamera sorot sudah mengarah pada lelaki yang berdiri di tengah kursi penonton.

SURPRISE ! ITS HIM ! ITS HIM ! Arna merasakan sesak di dadanya. Lelaki itu adalah Sang Lelakinya. Ia begitu bahagia di samping wanita itu. Tidak ada beban, tidak ada paksaan. Arna dapat membaca apa yang ia lihat , Sang lelaki begitu mencintai wanita itu, begitu pula sebaliknya. Sang lelaki berdiri dan tersenyum sambil sedikit membungkukkan badannya. Ia merasakan semuanya berhenti. Bahkan jantungnya mungkin berhenti saat itu. Tak percaya dengan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.

Both of them , they are a new rising star. Arna mengenal Sang lelaki memanglah musisi. Tapi tidak dengan wanita itu. Hidup mereka bahagia. Presenter mempersilahkan mereka bernyanyi menghibur penonton. Sang lelaki memainkan piano dan wanita itu bernyanyi di sampingkan. Sangat romantis.

"Andaikan aku wanita itu" , kalimat yang terus berputar di pikiran Arna. Arna masih merasakan sesak di dadanya. Tak mampu bernafas lega. Nafas yang tersengal-sengal itu terus ia paksa. Sampai akhirnya air mata itu menetes kembali. Sang lelaki lah yang dapat membuat Arna seperti itu.

Arna menangis karena bahagia dan menangis karena sedih, hanya dapat dilakukan oleh Sang Lelaki. Noone can do it to Arna. Tangisan itu tak terhenti sampai akhir acara.
Arna masih bertanya-tanya, "Apakah ini akhirnya ? Apakah perjuangan ku berakhir disini ? Tidak dapatkah ia melihat ku sedetik saja ? 11 tahun ini sangat berharga bagiku. Can I let him go with her who loved ?"

Tidak ada yang dapat Arna lakukan.

"Ya Allah , jika memang kami tidak berjodoh. Biarkan ia bahagia dengan yang lain. Aku berharap wanita itu mencintai nya seperti aku mencintainya. Karna Ia berhak mendapat Cinta seperti ku padanya. Tanpa syarat dan alasan apapun. Amiin"

Arna mencintainya. Cinta tanpa mengetahui alasannya. Cinta tak bersyarat. Cinta tanpa balasan. Arna berharap Sang Lelaki benar-benar mendapatkan Cinta seperti Cinta-nya pada Sang Lelaki.



Learn more »

Six Sense of Sam

Cerita di belakang layar memang terlalu mengocok perut jika diceritakan kembali atau bahkan diabadikan melalui video. Kekocakan, kekonyolan dan keanehan selalu terjadi secara tidak terduga. Kisah ini tentang Dean dan Sam sedang berbincang-bincang dengan pemain baru serial TV Supernatural yang bernama Arna. Tidak hanya mereka bertiga, namun seluruh kru tv yang sedang beristirahat pun ikut berkumpul dan berbincang-bincang di ruang tamu yang sama dimana saat itu sedang  tidak digunakan untuk pengambilan scene. Canda dan gelak tawa selalu keluar dari mulut masing-masing.

Perbincangan cukup seru sampai akhirnya suasana sedikit berubah karena ulah Sam sendiri kepada Dean. Sam senang sekali menggoda Dean, begitu juga sebaliknya. Namun saat itu, Sam lah yang menggoda Dean terlebih dahulu sehingga membuat wajah Dean berubah seketika. Dari candaan Sam, Dean agak kesal, namun tetap tersenyum untuk menutupi rasa kesalnya kepada Sam. Sam yang senang menggoda kakaknya itu terus saja tertawa terbahak-bahak sampai memegang perutnya yang mulai terasa kram.

Arna yang merupakan pemain baru hanya dapat tertawa dengan candaan kakak beradik itu. Ia ingin ikut tertawa dengan Sam, namun sisi lain ia melihat raut wajah Dean yang tersinggung membuatnya berusaha menghentikan tawa, namun berakhir dengan senyum kecil saja seolah-olah menahan tawa.

Selang beberapa waktu, Dean seakan memiliki ide untuk membalas Sam, sangat terlihat di raut wajah Dean. Pandangan mata Dean menuju ke Arna yang berada tepat di samping Sam. Awalnya Arna tak mengerti maksud pandangan Dean padanya. Ternyata, pandangan Dean pada Arna adalah kode untuk membalas Sam. Seorang Arna tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membalaskan kekesalan Dean pada Sam. Ya, Arna mengetahui dengan jelas pembalasan yang tepat untuk Sam adalah menciumnya. Tak ada canggung ataupun malu, Arna meng’iya’kan kode yang dimaksud oleh Dean dan kemudian mendaratkan ciuman tepat di pipi kanan Sam.

Dengan ekspresi yang begitu kaget, Sam berusaha menjauhkan tubuh Arna dari dekatnya sambil memegang pipinya yang telah disentuh oleh bibir Arna dan berkata “Hey”. Ekspresi Sam membuat Dean tertawa lega sampai memukul-mukul kursi karena Dean tidak kuat lagi tertawa. Begitu puas Dean membalas kejailan Sam dan mengacungkan jempolnya pada Arna.

Dari kejadian itu, bagaimana Arna mengetahui hal tersebut ?

Cerita awalnya adalah sudah diketahui bahwa Dean dan Sam merupakan kakak beradik yang saling menyayangi, namun Dean menunjukkan rasa saying tersebut dengan cara yang sedikit jail. Sama seperti manusia lainnya, Dean dan Sam juga memiliki hal-hal yang mereka sukai dan juga tidak mereka sukai. Dean mengetahui dengan jelas bahwa Sam tidak suka jika ia dicium tepat di pipinya oleh siapapun termasuk Dean, kakaknya sendiri.

Jika Sam membuat ulah sedikit saja kepada Dean, Dean tahu cara yang tepat untuk membalas Sam agar jera dan tidak menggoda Dean kembali. Jurus itu sangat ampuh, tidak lain dan tidak bukan cara itu adalah mencium pipi Sam dengan gemas bahkan sampai memeluknya dengan sangat erat. Ya, dari cerita Dean itulah Arna tau isyarat Dean untuk mengerjai Sam.

“Take … Take … Dean Sam, Ayo kita take!”, kalimat itu keluar dari megaphone sutradara.

Kali ini, sutradara membuat alur cerita seorang ibu dari seorang gadis dirasuki oleh hantu nenek yang meninggal karena dibunuh oleh laki-laki yang tidak dikenal. Setelah sutradara mengatakan kalimat itu, Sam dan Dean menuju lokasi pengambilan scene dan meninggalkan Arna di ruangan itu. Entah apa yang Sam rasakan pada Arna. Raut wajah Sam menunjukkan kekhawatiran yang berlebihan kepada Arna. Sam berjalan menuju lokasi pengambilan scene dengan sedikit ragu. Sesekali Sam membalikkan wajahnya ke arah Arna.

Arna adalah pemeran gadis yang ibunya dirasuki oleh hantu nenek-nenek dalam serial TV itu. Ketika itu pemeran “Ibu” masih berada di ruang rias untuk didandani agar sesuai dengan cerita yang dibuat oleh sutradara. Ada hal yang tidak biasa saat itu. Hari-hari biasa Ibu Arna yang sebenarnya tidak pernah ikut menemani anaknya syuting. Entah mengapa, hari itu Ibu Arna datang ke lokasi syuting. Arna pun tidak mengetahui jika ibunya akan datang. Raut wajah Sang Ibu sedikit berbeda seperti biasanya.

Dean dan Sam berlalu meninggalkan Arna dengan "Ibu" nya. Langkah Sam terhenti sejenak dan berbalik arah melihat Arna yang ia tinggalkan. "Dean!" , Sam berbalik arah sambil menepuk bahu Dean. Arna sedikit mengangguk mengisyaratkan bahwa ia baik-baik saja. Sam pun membalas anggukkan Arna. Namun, belum selesai mereka bertatapan , sang "Ibu" dengan tiba-tiba menyerang Arna. Winchesters bersaudara berlari sekuat tenaga untuk dapat meraih Arna agar terlepas dari cengkraman "Ibu".


Selepas Winchesters berhasil membebaskan Arna, ada sejarah yang mengatakan bahwa Ibu Arna telah dirasuki oleh arwah yang sempat bunuh diri di area pengambilan shooting. Arwah wanita itu tidak nyaman adanya kisah yang diambil dari kisah nyata wanita itu. Dan akhirnya shooting dihentikan demi keselamatan bersama.


~~ t h e  e n d ~~
Learn more »

Contact Form

Name

Email *

Message *